
Maltofer Tablet Kunyah adalah sediaan zat besi dalam bentuk tablet kunyah yang mengandung Iron Polymaltose Complex untuk pengobatan defisiensi zat besi tanpa anemia dan anemia defisiensi besi.
Artikel ini berisi informasi tentang Maltofer Tablet Kunyah berupa isi, harga, manfaat / khasiat / fungsi, komposisi, dosis, izin BPOM, kehalalan, produsen, dll.
Isi dan Harga
Maltofer Tablet Kunyah 1 strip isi 6 tablet kunyah yang diproduksi pada Feb 26 memiliki tanda HET (Harga Eceran Tertinggi) Rp25.319 per strip.
Indikasi Maltofer Tablet Kunyah
Maltofer berguna untuk pengobatan pada defisiensi zat besi tanpa anemia dan anemia defisiensi besi.
Maltofer juga dapat membantu dalam terapi pencegahan defisiensi zat besi selama masa kehamilan.
Komposisi Maltofer Tablet Kunyah
Setiap tablet kunyah Maltofer mengandung 100 mg zat besi sebagai Iron(III)-Hydroxide Polymaltose Complex (IPC), siklamat, zat pengaroma, dan zat tambahan untuk pencetakan tablet.
Bahan Tambahan
PEG 6000, Dextrates Hydrated, Alcohol, Sodium cyclamate, Cocoa flavour, Purified water, Talc, Vanillin, Chocolate essence powder, Microcrystalline cellulose.
Pemerian
Tablet berbentuk bulat datar dengan warna cokelat dan berbintik putih, salah satu sisi polos dan sisi lainnya bertanda break line.
Cara Kerja Maltofer Tablet Kunyah
Maltofer tablet adalah sediaan zat besi untuk pengobatan defisiensi zat besi tanpa anemia dan anemia defisiensi besi.
Besi adalah komponen penting dari haemoglobin, myoglobin, dan enzim-enzim yang mengandung besi. Biasanya defisiensi zat besi dapat menyebabkan cepat lelah, menurunnya konsentrasi, iritabilitas, perasaan gelisah, sakit kepala, hilang nafsu makan, peka terhadap stres dan infeksi, pucat, pecah-pecah di ujung mulut, kulit kering, dan rapuhnya rambut dan kuku.
Zat besi dalam Maltofer tablet adalah sebagai Iron(III)-Hydroxide Polymaltose Complex (IPC), yang masing-masing partikelnya terkait suatu polimer karbohidrat (polimaltosa). Hal ini mencegah perusakan saluran pencernaan oleh besi. Perlindungan ini mencegah interaksi antara besi dengan makanan. Selain itu, hal ini juga menjamin bioavailabilitas zat besi.
Struktur IPC mirip dengan ferritin, protein mengandung besi yang terdapat di alam. Karena kemiripannya itu, zat besi diabsorpsi melalui mekanisme alami.
IPC tidak bersifat oksidator seperti garam besi bivalen.
Kontraindikasi
Kelebihan zat besi (misal: haemochromatosis, haemo-siderosis) atau gangguan pada utilisasi zat besi (misal: lead anaemia, sidero-achrestic anaemia, talasemia) dan anemia yang tidak disebabkan oleh defisiensi zat besi (misal: haemolytic anaemia atau megaloblastic anaemia yang disebabkan karena defisiensi vitamin B12).
Hipersensitif terhadap salah satu komponen dalam obat.
Efek Samping
Kejadian yang tidak diinginkan di bawah ini, berdasarkan frekuensi kejadian dibagi menjadi paling sering (≥ 1/10), sering (< 1/10 sampai ≥ 1/100), jarang (< 1/100 sampai ≥ 1/1,000) atau sangat jarang (< 1/1,000).
Keamanan dan tolerabilitas dari Maltofer® dinilai dalam meta-analisis dari 24 publikasi atau laporan uji klinik dengan jumlah total 1473 pasien yang terpapar. Reaksi efek samping obat paling signifikan yang dilaporkan dari uji klinik ini terjadi pada 4 kelas sistem organ (lihat di bawah).
Perubahan warna tinja adalah reaksi efek samping obat dari sediaan zat besi oral, namun tidak dianggap relevan secara klinis dan sering tidak dilaporkan. Efek samping lainnya sering diobservasi adalah gangguan gastrointestinal (mual, konstipasi, diare, dan nyeri abdominal).
Gangguan gastrointestinal
- Paling sering: perubahan warna tinja*
- Sering: diare, mual, nyeri abdominal (termasuk: nyeri abdominal, dyspepsia, rasa tidak nyaman di epigastrik, distensi abdominal), konstipasi.
- Jarang: muntah (termasuk: muntah, regurgitasi), perubahan warna pada gigi, gastritis.
Gangguan jaringan subkutan dan kulit
- Jarang: pruritus, ruam (termasuk: ruam, ruam makular, ruam bulla)**, urtikaria**, eritema**.
Gangguan sistem saraf
- Jarang: sakit kepala.
Muskuloskeletal dan gangguan jaringan ikat
- Sangat jarang: kram otot (termasuk: kontraksi otot involuntary, tremor), myalgia.
* Perubahan warna tinja yang dilaporkan dalam meta-analisis ada pada frekuensi rendah, namun efek ini secara umum dikenal sebagai efek samping dari terapi zat besi oral. Untuk alasan ini, perubahan warna tinja diklasifikasikan sebagai efek samping yang paling sering.
** Kejadian berasal dari laporan spontan setelah pengenalan pasar, dengan perkiraan insidens < 1/491 (batas atas dari 95% confidential interval).
Overdosis
Pada kasus overdosis, intoksikasi atau kelebihan zat besi tidak berkaitan dengan rendahnya toksisitas dari Iron (III)-Hydroxide Polymaltose Complex (50% dosis letal (LD50) pada mencit dan tikus adalah > 2000 mg Fe/kg berat badan) dan saturasi yang diharapkan dari pengambilan zat besi. Sejauh yang diketahui, tidak ada kasus yang fatal pada kejadian keracunan yang tidak disengaja.
Peringatan dan Perhatian
Terapi anemia harus selalu di bawah pengawasan dokter.
Jika keberhasilan terapi (peningkatan hemoglobin sekitar 2-3 g/dL setelah 3 minggu) tidak tercapai, pengobatan perlu dipertimbangkan kembali.
Hati-hati untuk pasien yang menerima transfusi darah berulang, karena adanya pasokan zat besi pada eritrosit, yang dapat menyebabkan kelebihan zat besi. Pengobatan dengan Maltofer dapat menyebabkan perubahan warna tinja menjadi hitam, namun ini tidak signifikan secara klinis. Infeksi dan tumor dapat menyebabkan terjadinya anemia. Karena zat besi oral dapat digunakan hanya setelah penyakit primer diobati, selalu pertimbangkan analisis manfaat/risiko.
1 Maltofer tablet kunyah mengandung 10 mg sodium per tablet. Ini sesuai dengan 0.5% dari asupan harian maksimum yang direkomendasikan WHO, yaitu 2 g sodium untuk orang dewasa.
Perhatian untuk penderita diabetes: obat ini mengandung 0.04 bread unit per tablet.
Kehamilan
Data klinis pada kehamilan menunjukkan tidak ada efek yang tidak diinginkan pada kehamilan atau kesehatan pada janin atau bayi baru lahir. Data studi epidemiologi tidak tersedia. Studi pada hewan tidak menunjukkan adanya toksisitas reproduksi. Penggunaan selama kehamilan perlu diperhatikan. Sebagai tindakan pencegahan, Maltofer hanya diberikan setelah berkonsultasi dengan dokter.
Menyusui
Tidak diketahui apakah zat besi dari Iron (III)-Hydroxide Polymaltose Complex diekskresikan dalam ASI. ASI secara alami mengandung zat besi yang terikat dengan laktoferin. Sebagai tindakan pencegahan, Maltofer hanya diberikan selama menyusui setelah berkonsultasi dengan dokter.
Lainnya:
- Simpan di bawah suhu 30°C.
- Jauhkan dari jangkauan anak-anak.
Aturan Pakai Maltofer Tablet Kunyah
Aturan minum / takaran / dosis Maltofer Tablet Kunyah adalah sebagai berikut:
Dosis
Dosis dan lamanya terapi, bergantung pada tingkat defisiensi zat besi.
Anak-anak (>12 tahun), dewasa, dan ibu menyusui:
- Defisiensi zat besi dengan anemia: 1 tablet satu sampai tiga kali sehari selama 3-5 bulan, sampai diperoleh angka haemoglobin normal. Selanjutnya terapi diteruskan selama beberapa minggu dengan 1 tablet sehari untuk melengkapi cadangan zat besi.
- Defisiensi zat besi tanpa anemia: 1 tablet sehari.
Wanita hamil:
- Defisiensi zat besi dengan anemia: 1 tablet dua sampai tiga kali sehari sampai didapat angka haemoglobin normal. Selanjutnya terapi diteruskan dengan 1 tablet sehari setidaknya sampai akhir masa kehamilan untuk melengkapi cadangan zat besi.
- Defisiensi zat besi tanpa anemia dan pencegahan defisiensi zat besi: 1 tablet sehari.
Cara Pemberian
Dosis harian dapat dibagi dalam beberapa dosis atau dapat dimakan sekaligus. Maltofer tablet dapat ditelan langsung atau dikunyah dan harus dimakan selama atau segera setelah makan.
Jika zat besi diperlukan segera (Hb rendah, pengobatan bersamaan dengan EPO, dll), sebaiknya digunakan sediaan zat besi parenteral untuk mensubstitusi zat besi sehingga zat besi tersedia dengan cepat.
Interaksi Obat
Tiga studi pada manusia (desain cross-over, 22 pasien per-studi), dilakukan untuk mengamati interaksi dari Iron (III)-Hydroxide Polymaltose Complex dengan tetrasiklin atau aluminium hidroksida. Tidak ada pengurangan yang signifikan pada penyerapan tetrasiklin. Konsentrasi plasma tetrasiklin tidak turun di bawah kadar yang diperlukan efikasi. Penyerapan zat besi dari Iron (III)-Hydroxide Polymaltose Complex tidak berkurang karena aluminium hidroksida dan tetrasiklin. Iron (III)-Hydroxide Polymaltose Complex dapat juga diberikan bersamaan dengan tetrasiklin atau komponen fenolik lainnya, sama halnya dengan aluminium hidroksida.
Studi pada tikus menunjukkan tidak ada interaksi antara Iron (III)-Hydroxide Polymaltose Complex dengan tetrasiklin, aluminium hidroksida, asetilsalisilat, sulfasalazine, kalsium karbonat, kalsium asetat, kombinasi kalsium fosfat dan vitamin D3, bromazepam, magnesium aspartat, D-penicilinamin, metildopa, parasetamol, dan auranofin.
Pada studi in-vitro, Iron (III)-Hydroxide Polymaltose Complex tidak berinteraksi dengan komponen makanan, seperti asam fitat, asam oksalat ,tannin, sodium aliginate, kolin dari garam kolin, vitamin A, vitamin D3 dan vitamin E, minyak kedelai dan tepung kedelai. Hasil ini mengindikasikan bahwa Iron (III)-Hydroxide Polymaltose Complex dapat diminum selama atau segera setelah makan.
Pemberian Maltofer bersamaan dengan sediaan zat besi parenteral tidak diindikasikan karena penyerapan dari sediaan zat besi oral akan dihambat dan sediaan zat besi parenteral hanya dapat digunakan jika terapi oral tidak sesuai.
Tes haemoccult (tes selektif Hb) untuk mendeteksi occult blood tidak akan terganggu sehingga tidak perlu menghentikan terapi zat besi.
Golongan Obat
Pada kemasan Maltofer Tablet Kunyah terdapat tanda obat lingkaran hijau .
Izin BPOM dan Kehalalan
Maltofer Tablet Kunyah memiliki izin BPOM dengan nomor registrasi DBL0204128063A1 dan mencantumkan logo Halal Indonesia dengan nomor sertifikat ID00310008610550923.
Produsen
Maltofer Tablet Kunyah diproduksi oleh PT Combiphar, Bandung Barat, Indonesia dengan lisensi dari Vifor (International) Inc., St. Gallen, Switzerland.
Keterangan:
Informasi pada artikel ini berdasarkan informasi yang tertera pada kemasan produk Maltofer Tablet Kunyah 1 Strip Isi 6 Tablet yang saya beli pada Juli 2026. Informasi dapat berubah sewaktu-waktu dan penulis tidak dapat selalu menjamin kemutakhiran informasi.